Sebuah joke menarik yang cukup populer di tengah gegap gempita dakwah generasi terbuka (termasuk saya), adalah tentang prestasi dalam membubarka halaqoh. “ Jangan takut membubarkan halaqoh!” demikian kira-kira bunyinya. Bahwa halaqoh yang bubar bukanlah sesuatu yang patut untuk ditangisi, karena ia lebih layak mendapat senyuman.
Joke ini mengandung pesan terselubung bahwa kegagalan dalam membina sebuah halaqoh adalah hal yang wajar, bahkan (nyaris) niscaya. Jadi, tidak perlu merasa jera jika mengadakan pembubaran halaqoh untuk yang pertama atau kedua. Kita hanya perlu terus membina. Karena masih akan ada lagi acara pembubaran halaqoh untuk yang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.
Tak bisa dipungkiri bahwa, tidak semua orang (baca: ikhwah) mau dan (merasa) mampu menjadi seorang murobbi/ah, apalagi berpengalaman membubaran dan (mencoba dari nol lagi) membina halaqoh sampai berkali-kali. Dibutuhkan keberanian, ketangguhan, dan tentu saja: keihklasan. Jika tidak kuat, ia bisa langsung kapok pada pengalaman pertama. Trauma. Tak sudi membina siapa-siapa lagi (sulit dibayangkan memang, jika semua murobbi/ah, di era terutup hingga terbuka, beramai-ramai kapok jika telah sekali membubarkan halaqoh). Fakta bahwa kuantitas sumber daya murobbi/ah yang masih belum memadai, bolehlah diterima sebagai (salah satu) faktor pemicu kecemasan dan keresahan. Namun ekspresi kecemasan itu-jka boleh menyebutnya demikian-masih meiliki celah yang lain untuk tidak mesti menjelma menjadi sesuatu yang ironis. Sisi lain euforia keterbukaan (yang kelamaan) ?
Khawatirnya, joke yang (diharapkan) motivatif ini, menjadi bumerang bagi sektor pembinaan. Ia adalah pedang bermata dua: di satu sisi bisa mendongkrak semangat juang, namun di sisi lain ia potensial mengguratkan semacam ’kebolehan’ untuk memandang halaqoh hanya sebagai ’ajang coba-coba’ yang sungguh nothing to loose. Pada titik tertentu, sebuah halaqoh kemudian seakan-akan boleh saja dikelola ”asala-asalan”(?) karena –sadar atau tidak- sudah terprogram untuk ”bubar jalan”.
OK. Saya percaya, sugesti kegagalan tidaklah semengerikan itu di atas mlitansi dan kesungguhan kita. Namun akan menjadi riskan, jka langkah-langkah pembinaan mesti terus dibayang-bayangi oleh momok ”pembubaran halaqoh”, even ia hanya dimaksudkan sebagai suplemen energi ataupun semangat.
Iya sih, tak ada yang salah dengan halaqoh yang bubar, selain kenyataan bahwa para mad’u itu tidak betah berlama-lama stay tuned dengan kita. Wallahu a’lam bishshowab.
Masih di Palopo, 2007